Postingan

In between : Semantics and Pragmatics

Gambar
Buku yang saya bedah (atau lebih tepatnya saya tulis ulang dalam bahasa Indonesia) kali ini berjudul Pragmatics yang ditulis oleh Jean Atilwel Peccei, 1999. Bagi saya, dan mungkin juga mereka yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, pasti pernah punya pengalaman ketika kita mencoba berkomunikasi dengan anak-anak kita. Pengalaman itu ada yang lucu ada pula yang sampai membuat kita kesal. Permasalahan muncul ketika anak kita sepertinya sudah mengerti dan bisa merespon perkataan kita, tetapi gagal memahami maksud perkataan kita. Berikut penjelasan yang mudah-mudahan bisa mencerahkan kita sebagai orang tua sehingga kita bisa lebih bertoleransi dengan keterbatasa anak-anak kita. Antara Semantics dan Pragmatics Mari kita mulai dengan contoh kasus di bawah ini: A little boy comes in the front of the door. Mother : Wipe your feet, please. The boy removes his muddy shoes and shocks and carefully wipes his clean feet on the doormat. A father is trying to get his 3-year-old daug...

Es potongnya, baaang....es potong

Selain mengajar di kampus, saya juga mengajar di sebuah SMP Negeri di dearah Tambun, tepatnya di kelas VIII. Salah satu kelas yang saya ajar adalah kelas yang berisi anak-anak super, super berisik dan gampang gaduh. Kami, para guru, kerap diingatkan oleh sang wali kelas untuk banyak bersabar dan banyak beristighfar sebelum mengajar di kelas itu. Betul juga, sih. Sebenarnya tidak semua anak-anak di kelas itu senang membuat gaduh atau berisik. Ada juga anak yang berlabel pendiam, nurut, pinter, di samping label tukang nyelutuk, tukang jalan-jalan di kelas, tukang jahil, tukang pukul, dan sederet label lainnya yang, yaaah….itulah mereka…remaja yang mungkin mereka sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa mereka bertingkah seperti itu. Tapi, apapun dan bagaimanapun seringnya saya dibuat kesal dengan sebagian anak-anak di kelas ini, ada saja ulah mereka yang akhirnya membuat saya tertawa dan bergumam, I just love this class no matter what. Seperti siang itu, hari Rabu pekan lalu, seperti b...

A Sweet Togetherness

Gambar
Berbagi ilmu dan keceraiaan di Oak Tree English Course Welcome to Oak Tree !!! Hello World I love youuu

Dear Parents

Gambar
1.Don't spoil me. I know quite well that I ought not to have all I ask for. I'm only testing you. 2. Don't be afraid to be firm with me. I prefer it, it makes me feel secure. 3. Don't let me form bad habits. I have to rely on you to detect them in the early stages. 4. Don't make me feel smaller than I am. It only makes me behave stupidly "big". 5. Don't correct me in front of people if you can help it. I'll take much more notice if you talk quietly with me in private. 6. Don't make me feel that my mistakes are sins. It upsets my sense of values. 7. Don't protect me from consequences. I need to learn the painful way sometimes. 8. Don't be too upset when I say "I hate you". Sometimes it isn't you I hate but your power to thwart me. 9. Don't take too much notice of my small ailments. Sometimes they get me the attention I need. 10. Don't nag. If you do, I shall have to protect myself by appearing deaf. 11. D...

(Perempuan), (Feminism), Feminist, Female, and Feminine

Jangan terkecoh dengan judul di atas. Tulisan berikut ini bukanlah hasil pemikiran, apalagi penelitian, saya. Kata-kata Feminist, Female and Feminine di atas sejatinya adalah judul esainya Toril Moi. Dia adalah salah satu dari seabreg theorists yang dijadikan acuan atau perbandingan oleh penulis sebuah buku yang saya baca. Sedangkan tambahan kata (Perempuan) dan (Feminism) merupakan ide saya sendiri. Buku apakah itu? Jawabannya ada di ujung tulisan ini. Minggu lalu saya meminjam sebuah buku seorang rekan di kampus tempat saya mengajar. Buku itu berhasil membuat saya tercengang, mengerutkan kening, dan manggut-manggut sendiri ketika otak saya yang dengan segala keterbatasannya berhasil memahami dan memersepsi apa yang dimaksud penulis buku yang saya baca itu. Sesekali saya bergumam sendiri, “Kok ada orang sampai punya pemikiran seperti itu???” orang yang saya maksud adalah para theorist di buku itu. “Kok bisa ya, dia berpikir ke arah itu?” “Kok yang kayak gitu diribeti...

Poem from Guantanamo

APAKAH BENAR? By: Usamah Abu Kabir Apakah benar rumput Tumbuh kembali setelah hujan? Apakah benar bunga Mengembang kembali di musim semi? Apakah benar burung Akan kembali terbang pulang? Apakah benar ikan-ikan salmon Juga berenang pulang mengarungi jeram? Itu semua benar Semuanya benar Semua adalah keajaiban Tapi apakah benar, kami semua akan pulang Pergi meninggalkan Pantai Guantanamo yang jahanam Apakah benar suatu hari kamu akan pulang? Aku berlayar dalam mimpi Mendamba aroma rumah Bersama anak-anakku belahan jiwa Bersama istriku, satu-satunya yang kucinta Bersama orangtuaku Yang menjadi tambatan jiwa Aku bermimpi pulang, keluar dari tahanan Wahai para hakim, dengarlah suara ini Apakah kalian mendengar kami? Tak ada salah yang kami perbuat Hingga berakhir di tempat ini Bebaskan kami, merdekakan kembali Jika masih ada keadilan dan kemanusiaan Di dunia ini!

Life's Like That

1. My daughter, Patti, was having difficulty balancing her checkbook, so I sent her a calculator. I included an extra set of batteries and this note: “These are for the first time you forget to turn off your calculator.” She wrote back, “I appreciate your gift, Mom. And thanks for the extra batteries. You forgot to turn off the calculator.” (Lari Osborn) 2. When I took a pair of slacks to the dry cleaners, I pointed out to the clerk the double creases that had been left from the previous cleaning. I asked him to make sure the trousers received proper treatment this time. Upon picking up the pants, I was relieved to see they had been pressed perfectly. Glancing at the garment ticket, I read: “Pay attention to creases. Customer would like one per leg.” (RT. Andersen) 3. With me in the car when I returned some books to the library were my two long-haired dachshunds. Ozy, who was on the backseat, has a habit of barking for a minute or so after being left in the car. Shandy, which remains q...